ABOUT - ALBUM - POEMS - WRITING - TESTS - JOURNAL - WEBSITE - CONTACT  
 


Join Partner
Oleh: Yamin Setiawan

Beberapa waktu yang lalu saya pernah bergabung dengan salah seorang teman dalam usaha jasa. Awalnya tidak ada masalah, tapi tidak beberapa lama kemudian baru saya menyadari bahwa kami tidak cocok, saya merasa ditekan, saya merasa dia (panggil saja si A) itu seorang yang otoriter, sehingga kerja sama kami hanya bertahan seumur jagung.

Waktu saya masih kerja ditempat itu saya membawahi beberapa anak buah, hubungan saya dengan mereka sangat baik, malah mereka sangat kecewa ketika saya mengundurkan diri. Mereka sering cerita dan berkeluh kesah tentang si A, yang katanya otoriter, mau menang sendiri, dll.

Apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi?
Schein (1985) mengelompokkan budaya perusahaan menjadi 4 tipe:

  1. Power Culture
    • Karyawan dimotivasi oleh reward dan punishment.
    • Budaya power yang bagus mempunyai pemimpin-pemimpin yang kuat, adil, tegas dan fair.
    • Budaya power yang buruk mempunyai pemimpin-pemimpin yang korup, otoriter.
    • Bagus untuk organisasi yang baru berdiri.
    • Masalah muncul ketika ukuran dan kompleksitas organisasi meningkat.
  2. Role Culture
    • Peran dan peraturan jelas dan perjanjian ditetapkan.
    • Nilai-nilai: order, keterikatan, rasionalitas dan delegasi.
    • Sedikit pengawasan.
    • Budaya ini baik untuk lingkungan yang stabil.
    • Mereka dapat menjadi impersonal, kesulitan untuk inovasi dan perubahan.
    • Cenderung membuat anggota merasa frustasi.
  3. Achievement Culture
    • Motivasi dari dalam dan orang-orang dapat mengerjakan pekerjaan pribadi.
    • Nobel goals.
    • Budaya ini menghargai tindakan, melakukan dengan senang, manfaat pribadi.
    • Target-target tinggi.
    • Budaya ini perlu usaha keras untuk dipertahankan.
    • Perlu lebih banyak visi bersama untuk mengorganisir pekerjaan dari pada masalah disiplin.
  4. Support Culture
    • Sukarela dan hubungann timbal balik.
    • Solidaritas tinggi.
    • Terdapat pada militer, masyarakat ekspatriat, serikat.
    • Kepedulian, kepercayaan dan perhatian terhadap nasib yang lain.
    • Motivasi yang kuat untuk melayani dalam grup.
    • Kelemahan: cenderung menghindari konflik, musyawarah terlalu ditonjolkan, ada 'anak emas'.
Kelihatannya si A menggunakan power culture didalam perusahaannya. Saya tidak mengatakan bahwa power culture itu jelek, tapi mungkin si A tidak menyadari bahwa power culture hanya cocok bila pada perusahaan yang baru berdiri dan karyawan yang pendidikannya rendah. Pada karyawan yang pendidikannya rendah (contohnya buruh) kita tidak perlu bilang: "bagaimana kalau besok kita lembur?", pasti akan ramai, kita harus menggunakan power culture, harus langsung dengan tegas bilang: "besok lembur". Tapi sebagian besar karyawan ditempat kami itu adalah para sarjana, tidak bisa dibuat otoriter.

David McClelland (1961) mengemukakan adanya 3 macam kebutuhan manusia, yaitu:

  1. Need for Achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab, untuk pemecahan masalah.
  2. Need for Affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
  3. Need for Power, yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas, untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain.
Rupanya si A memiliki need for power yang tinggi sehingga dia memimpin dengan sikap otoriter, sedangkan saya memiliki need for affiliation sehingga dengan bawahanpun saya bisa akrab. Saya tidak mengatakan need for power itu jelek dan need for affiliation itu bagus, tidak, semua itu punya kelebihan dan kekurangannya tergantung situasi dan kondisi yang ada. Pada kondisi tertentu need for affiliation sangat jelek, bisa dianggap tidak berwibawa, dll.

Abraham Maslow, dengan teori hirarki kebutuhan-nya membagi kebutuhan manusia menjadi 5, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologis.
  2. Kebutuhan rasa aman.
  3. Kebutuhan untuk merasa memiliki.
  4. Kebutuhan akan harga diri.
  5. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.
Kelihatannya para karyawan ditempat kami itu memiliki "kebutuhan akan harga diri" yang cukup tinggi, sehingga mereka merasa tidak nyaman ketika teman saya menekan mereka.

Bagaimanakah anda memimpin perusahaan anda?

22 September 2004


Reviews:
***** [Mar 29, 2008] by Mella
Dear, apa kabar?
Saya setuju dgn pendapat anda, karena justru dgn gak sadar perusahaan akan terus gak berkembang karena pekerjanya hanya keluar masuk perusahaan dg alasan gak jelas.

 
Copyright © 2006 Yamin Setiawan