ABOUT - ALBUM - POEMS - WRITING - TESTS - JOURNAL - WEBSITE - CONTACT  
 


Statistika
Oleh: Yamin Setiawan

Baru-baru ini salah seorang teman kampusku menanyakan ke salah seorang dosen statistika, apa boleh dia menggunakan metode non parametrik pada penelitian dalam rangka pembuatan skripsi-nya. Teman saya yang sudah membuat kerangka menggunakan metode non parametrik berusaha menanyakan lebih jelas dan mengejar terus dengan pertanyaan-pertanyaan ketika sang dosen mengatakan bahwa dalam pembuatan skripsi-nya harus menggunakan metode parametrik.

Lalu, bagaimanakah yang seharusnya?

Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat faktual, dimana konsekuensi-nya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu panca indera tersebut. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lainnya. Kalau kita kaji lebih dalam maka pengujian merupakan suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Sekiranya hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka pernyataan hipotesis tersebut diterima atau disahkan kebenarannya. Sebaliknya jika hipotesis tersebut bertentangan dengan kenyataan maka hipotesis itu ditolak.

Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Jadi dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di pihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan mempergunakan deduksi. Kedua penarikan kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampur adukkan. Logika deduktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.

Penarikan kesimpulan induktif pada hakikatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Dalam penalaran deduktif maka kesimpulan yang ditarik adalah benar sekiranya premis-premis yang digunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah maka kesimpulan itu belum tentu benar. Yang dapat kita katakana adalah bahwa kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar. Statistika adalah pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluang ini dengan eksak. Untunglah dalam hal ini statistika memberikan sebuah jalan keluar. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan.

Sedangkan statistika sendiri adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data.

Ada dua macam statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varians dari data mentah; mendeksripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah "dibaca" dan lebih bermakna. Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.

Data statistik adalah keterangan atau ilustrasi mengenai sesuatu hal yang bisa berbentuk kategori (misalnya rusak, baik, cerah, berhasil) atau bilangan. Data yang berkategori disebut sebagai data kualitatif dan data bilangan disebut data kuantitatif.

Ada empat tipe pengukuran atau skala pengukuran yang digunakan didalam statistika (berdasarkan cara menyusunnya), yakni: nominal, ordinal, interval, dan rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam riset statistik. Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif (misalnya: jenis kelamin, agama, warna kulit). Skala ordinal selain membedakan juga menunjukkan tingkatan (misalnya: pendidikan, tingkat kepuasan). Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak (misalnya: tahun, suhu dalam Celcius). Sedangkan skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak.

Pengumpulan data secara kualitatif tidak membutuhkan sampel yang besar atau banyak, tapi data tersebut harus benar-benar mewakili populasi yang akan diteliti dan harus benar-benar dikaji sangat dalam. Data kualitatif biasanya diambil lewat wawancara dan observasi. Seperti halnya bola salju yang jatuh dari atas gunung, demikian pula dalam pengembilan data kualitatif, harus benar-benar membentuk bola-bola salju yang tambah lama tambah besar dan akan berhenti bila sudah mencapai titik finish, berhenti bila sudah tidak ada yang bisa digali lagi.

Berdasarkan cara perolehannya, data kuantitatif dibedakan menjadi data diskrit dan data kontinu / kontinum. Data yang diperoleh dari hasil menghitung termasuk dalam data diskrit (jumlah anak, dll), sedangkan data yang didapat dari hasil mengukur termasuk dalam data kontinu (tinggi badan, berat badan, dll).

Kedudukan variabel ada dua:

  1. Variabel Utama
    • Variabel Bebas (Bila sebagai sebab)
    • Variabel Tergantung (Bila sebagai akibat)
  2. Variabel Sampingan
    1. Dikontrol
      • Secara Statistik
        • Datanya Kontinum -> Dinamakan Variabel Sertaan
          • Tipenya Korelasi -> Dinamakan Ko Prediktor
          • Tipenya Komparatif -> Dinamakan Ko Variabel
        • Datanya Diskrit -> Dinamakan Variabel Moderator
      • Secara Subyek -> Dinamakan variabel Kendali
    2. Tidak dikontrol
      • Variabel Intervening (Bila sebagai perantara antara variabel Bebas dan variabel Tergantung)
      • Variabel Rambang (Tidak dikontrol karena pada penelitian sebelumnya menyatakan sumbangannya kecil terhadap variabel utama; Sulit diukur; dan Bisa diukur tapi membutuhkan klasifikasi yang luar biasa)

Dalam pengambilan sample-pun tidak boleh sembarangan tapi ada tekniknya yang dinamakan Teknik Sampling, macam Teknik Sampling:

  1. Proportional Random Sampling:
    Pengambilan sample dengan memperhatikan proporsi jumlah sub-sub populasi.
  2. Stratified Random Sampling:
    Pengambilan sample dengan memperhatikan strata dalam populasi.
  3. Cluster Random Sampling:
    Pengambilan sample dengan memperhatikan sub-sub populasi, kemudian sub-sub populasi yang ada dipilih satu secara random.
  4. Purposive Random Sampling:
    Pengambilan sample dengan mengacak. Sebelum diacak, dipilih terlebih dahulu orang-orang yang menjadi sample penelitian berdasarkan ciri-ciri khusus yang berkaitan dengan tujuan penelitian.
  5. Area Random Sampling:
    Pengambilan sample dengan memperhatikan besar kecilnya wilayah populasi.
  6. Incidental Sampling:
    Populasi tidak jelas kedudukannya sehingga menjadikan orang-orang yang berhasil ditemui pada tempat dan waktu tertentu sebagai sample penelitian.
  7. Kuota Sampling:
    Menetapkan orang-orang yang akan menjadi sample penelitian adalah orang-orang yang menyerahkan / mengumpulkan angket / skala yang paling awal dengan jumlah tertentu yang telah ditetapkan peneliti.
  8. Simple Random Sampling:
    Diperuntukkan untuk populasi yang homogen, dengan cara mengambil orang langsung secara random.

Metode kuantitatif sendiri terbagi menjadi dua, parametrik dan non parametrik. Parametrik digunakan untuk uji asumsi / kaidah / hukum, dimana ia memiliki syarat:

  1. Normalitas sebaran variabel tergantung
  2. Linieritas hubungan antar variabel bebas dan variabel tergantung
  3. Kolinieritas hubungan sesama variabel bebas
  4. Homogenitas variabel tergantung:
    • Antar Kelompok
    • Antar Waktu
Sedangkan fungsi dari non parametrik adalah pengganti parametrik dan digunakan pada sampel yang kecil. Maksudnya bila sample yang diambil sangat kecil (dibawah 21 orang) maka digunakan non parametrik, jangan menggunakan parametrik. Atau bila salah satu syarat dari empat syarat parametrik tidak sesuai maka langsung beralihlah ke non parametrik.

Lalu bagaimana dengan permasalahan teman saya diatas yang ingin menggunakan metode non parametrik? Sebenarnya bisa-bisa aja kalau teman saya ingin menggunakan metode non parametrik tapi jangan langsung menggunakan non parametrik bila syarat-syarat parametrik diatas masih berlaku, karena non parametrik menggolong-golongkan data tersebut menjadi kelas-kelas yang perhitungannya biasanya tidak seteliti parametrik. Atau bila teman saya tersebut memiliki sampel yang kecil, dia bisa langsung menggunakan metode non parametrik, tapi perlu diingat, dalam pengambilan data, diusahakan sampel yang dipakai cukuplah besar, karena sampel yang besar akan sangat mewakili populasi yang ingin diteliti. Sampel yang kecil diambil bila populasi yang ingin kita teliti sangatlah langka, sangat sedikit, sangat jarang, populasi dari sampel yang akan diambil sangatlah sulit didapat.

Non parametrik biasanya dipakai untuk penelitian uji beda (komparatif), jarang yang penelitian korelasi.

Penelitian antar kelompok menggunakan lebih dari satu kelompok, misalnya kelompok sekolah bonafid dengan kelompok sekolah biasa, dll. Sedangkan untuk antar waktu adalah penelitian yang menggunakan sampel yang tetap, misalnya kemandirian anak TK baru masuk sekolah dengan pengukuran setelah enam bulan si anak masuk sekolah, jadi sampel yang diukur adalah sama.

Contoh-contoh pemilihan model statistika:

  1. KORELASI / HUBUNGAN:
    • KORELASI satu variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala kontinum.
      Parametrik: Product Moment
    • KORELASI dua variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala kontinum.
      Parametrik: Regresi Umum (2 prediktor)
    • KORELASI x variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala kontinum.
      Parametrik: Regresi Umum (x prediktor)
    • KORELASI beberapa variabel bebas bergejala kontinum dengan beberapa variabel tergantung bergejala kontinum.
      Parametrik: Regresi Simultan
    • KORELASI satu variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala kontinum serta mengontrol secara stastika variabel sertaan (ko prediktor).
      Parametrik: Korelasi Parsial m jalur jenjang ke-n
      (M=Jumlah var Moderator, N=Jumlah Ko-Prediktor)
    • KORELASI satu variabel bebas bergejala kontinum dengan satu variabel tergantung bergejala diskrit.
      Parametrik: Analisis Korelasi
    • DLL
  2. KOMPARATIF / PERBEDAAN:
    • KOMPARATIF ANTAR KELOMPOK dengan dua variabel bebas
      Parametrik: Uji-t antar kelompok
      Non Parametrik: Uji beda Mann-White U-Test
    • KOMPARATIF ANTAR KELOMPOK dengan x (x>2) variabel bebas
      Parametrik: Analis Variansi (ANAVA) 1 jalur
      Non Parametrik: Uji beda Jenjang Anava Kruskal-Wallis
    • KOMPARATIF dengan x (x>2) variabel bebas dan mengontrol secara statistika variabel moderator
      Parametrik: Analis Variansi (ANAVA) 2 jalur
    • KOMPARATIF dengan x (x>2) variabel bebas dan lebih dari 1 variabel tergantung
      Parametrik: Analis Variansi (ANAVA) Simultan 1 jalur
    • KOMPARATIF ANTAR WAKTU dengan dua variabel bebas
      Parametrik: Uji-t antar waktu (Amatan ulangan)
      Non Parametrik: Uji Tanda Wilcoxon
    • KOMPARATIF ANTAR WAKTU dengan x (x>2) variabel bebas
      Parametrik: Analisi Variansi (ANAVA) Amatan ulangan
      Non Parametrik: Uji Beda Amatan Ulangan Dari Friedman
    • KOMPARATIF kelompok data yang sifatnya jumlah subyek atau presentase
      Parametrik: Kai Kuadrat
    • KOMPARATIF lebih dari dua kelompok data serta mengontrol secara statistik variabel sampingan (ko variabel)
      Parametrik: Anakova (Analisis Ko Variansi) 1 jalur
    • KOMPARATIF lebih dari dua kelompok data serta mengontrol secara statistik variabel sampingan (ko variabel) dan variabel moderator
      Parametrik: Anakova (Analisis Ko Variansi) 2 jalur
    • KOMPARATIF lebih dari dua kelompok data dimana jumlah variabel tergantung juga lebih dari 1, serta mengontrol secara statistik variabel sampingan (ko variabel)
      Parametrik: Anakova (Analisis Ko Variansi) Simultan 1 jalur
    • DLL

Statistika itu menarik bukan? ;-D

06 September 2007


Reviews:
***** [Apr 07, 2012] by Andri
Tlong bantuannya, saya bingung pke uji statistik apa yg cocok buat judul saya.. Perbandingan antara pendekatan A dan pendekatan B terhadap minat belajar. Mksh sblumnya..

**** [Peb 21, 2012] by Ayu
Mohon bantuannya. Judul skripsi saya pengaruh tingkat suku bunga dan inflasi terhadap simpanan masyarakat, dosen pembimbing saya menyuruh saya mengambil data suku bunga dari suku bunga deposito ditambah suku bunga tabungan, lalu bagi dua (dibuat rata-rata). Apakah itu boleh? karena ada yang mengatakan tidak boleh. Bingung jadinya. Terima kasih sebelumnya..

***** [Nop 05, 2011] by Ina
Saya sdg meneliti perbedaan hasil belajar antara mhswa asal SMK dn SMA d jrusan keteknikan. Kira2 metoda apa yg dipakai dan bs gk jelasin gmana penyelesaiannya.. Mksh sblumnya...

***** [May 02, 2011] by Eli
Bila data sampel yg kita pakai 40 siswa namun di kelompokkan berdasarkan perbedaan siswa dlm belajar kita harus menggunakan non parametrik atau parametrik..??.. Trims.

***** [Mar 04, 2011] by Ilham Ramadhan
Blh mnt g?

***** [Mar 04, 2011] by Randy
Bagus...

***** [Jan 03, 2011] by Nacha
Baca ya..

**** [Oct 16, 2010] by Defis Alfrado
Terima kasih atas informasinya.. namun timbul pertanyaan dari penjelasan anda berikut ini. Berdasarkan cara perolehannya, data kuantitatif dibedakan menjadi data diskrit dan data kontinu / kontinum. Data yang diperoleh dari hasil menghitung sedangkan arti kualitatif adalah data yg dikategorikan menurut kualitas obyek yg diamati.. jadi ukuran jeles / tidaknya bisa juga melalui nilai (diskrit dan kontinu) misal jumlah kerusakan suatu barang lebih dari 10 kategori= Gagal/jelek. Bagaimana untuk penjelasan ini ? terima kasih sebelumnya.

Salam: Davis.

**** [Dec 07, 2009] by Anneke
Menarik sekali membaca penganut faham penelitian kuantitatif dan kualitatif, yang seharusnya dapat bersinergi untuk menghasilkan teori baru ataupun aplikasi suatu teori. Benar statistika berkutat dengan angka dan data, tapi semua itu ada metode yang mendukung bahwa data tersebut representatif, sehingga dengan menggunakan analisis statistika yang benar kita dapat menghemat waktu dan biaya. Tetapi hasil analisis statistika ini harus didukung oleh fakta dan penjelasan yang bermakna bagaimana variabel-variabel tersebut saling bertaut atau bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa, maka analisis mendalam atau dapat dikatakan analisis kalitatif berperan disini. Tidak ada suatu penelitian yang paling benar apakah kualitatif atau kuantitatif. Contohnya ada berapa persen ibu melahirkan yang meninggal dunia setiap 1000 orang, maka analisisnya adalah kuantitatif, tetapi jika ingin mengetahui seberapa sakitnya melahirkan, maka penelitiannya adalah kualitatif. Jika ingin memadukan kedua penelitian tersebut, gunakan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Mudah bukan.

**** [Oct 25, 2009] by Mutiara Fadila
Terimakasih.

***** [Oct 19, 2007] by Yamin Setiawan
Buat Nuzulul:
Seperti yang saya tulis diatas, metode kualitatif tidak salah dan boleh-boleh saja dipakai dalam penelitian tapi harus digarisbawahi bahwa yang dijadikan obyek penelitian haruslah benar-benar bisa mewakili populasi yang akan diteliti dan harus benar-benar digali secara dalam, seperti yang saya tulis diatas, harus seperti bola es yang turun menggelinding dari atas bukit menuju kebawah, tambah lama tambah besar, berhenti setelah sudah tidak ada jalan lagi. Dasarnya adalah kuantitatif menguji sebuah teori sedangkan kualitatif membangun teori.

Ivan Petrovich Pavlov dan Burrhus Frederic Skinner melakukan uji coba menggunakan binatang sehingga sangat membantu dalam ilmu psikologi sekarang ini, hasil uji coba mereka langsung dapat diterima oleh umum karena hasilnya secara fisik nampak perubahan perilaku dari binatang tersebut. Kita yang tidak ahli dalam bidang ini rasanya tidak akan bisa membuat tugas akhir dengan melakukan pembedahan pada binatang. Bila kita dapat membuktikan pada para dosen penguji secara fisik seperti ini, teori baru yang kita buat saya rasa langsung dapat diterima.

Faktor-faktor yang mempengaruhi teori kepribadian adalah:

  1. Faktor-faktor historis masa lampau, faktor utamanya:
    • Pengobatan klinis Eropa
    • Psikometrik atau pengukuran psikologi telah memainkan peranan yang amat penting dalam pertumbuhan psikologi ilmiah. Sebelum adanya psikometrik, tidaklah mungkin dan bahkan sulit dibayangkan untuk bisa mengukur fungsi-fungsi psikologi manusia. Psikometrik kontemporer sudah dipakai pada jamannya Gustav Theodor Fechner (1801 - 1887) pada abad ke-19. Dari sini dapat dilihat khan bahwa statistika sudah dipakai sejak dulu.
    • Behaviorisme
    • Psikologi Gestalt
  2. Faktor-faktor kontemporer:
    • Berasal dari dalam psikologi: psikologi lintas budaya, proses kognitif dan motivasi. Dimana hal tersebut mendorong terjadinya reevaluasi (peninjauan ulang) atas validitas dan reliabilitas teori-teori psikologi yang ada. Jadi selama ini, salah satu tugas akhir mahasiswa adalah melakukan hal ini, menguji kebenaran suatu teori untuk meninjau ulang validitas dan reliabilitasnya, karena suatu budaya yang berbeda, proses kognitif yang terus berkembang dan motivasi yang berubah akan menghasilkan hasil yang berbeda pula, sehingga perlu dikaji ulang.
    • Berasal dari luar psikologi: salah satunya pengaruh aliran filsafat.
Saya yakin para pakar psikologi yang anda sebutkan seperti Freud, Adler, Maslow, dll saat menemukan teori-teori psikologinya bukan pada saat membuat tugas akhir tapi memang mereka khusus melakukan penelitian. Bila kita ingin membuat teori baru pada saat tugas akhir, saya rasa kita akan di drop out dulu sebelum kita menemukan teori baru tersebut karena suatu instansi seperti universitas pasti memberikan batas waktu study pada mahasiswanya. Kita bisa membuat penelitian setelah lulus dan mungkin nantinya hasil penelitian tersebut dapat dimasukkan ke jurnal psikologi agar dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi sendiri.

Teori-teori para pakar tidak langsung bisa diterima oleh umum, walaupun kita masih mempelajari teori para pakar jaman dulu tapi apakah teori mereka tersebut bisa langsung kita terima begitu saja? Seperti contohnya teori konstitusi dari Sheldon dan Kretschmer yang mengatakan bahwa bentuk tubuh seseorang mempengaruhi kepribadiannya. Walaupun teori mereka bermanfaat untuk perkembangan teori psikologi tapi terus terang saya secara pribadi tidak setuju dengan teori mereka tersebut. Teori-teori dari Freud-pun tidak langsung diterima, malah sampai sekarang beberapa teorinya tidak diterima, dan malahan teori-teori Freud ini mendapat tantangan dari beberapa pakar, para pakar ini akhirnya juga membentuk aliran lain, misalnya behaviorisme. Suatu teori baru belum tentu dapat diterima langsung, misalnya anda menemukan teori baru, saya rasa pada saat maju sidang pasti terhambat karena kebenaran teori anda masih diragukan, mungkin butuh waktu, dan untuk kelulusan tugas akhir, waktu yang dibutuhkan itu tidak tersedia.

Hasil hipotesa tidaklah harus diterima, jadi bila hasil hipotesa ditolak, para mahasiswa tidaklah perlu menyiasati hasil penelitian dengan mengganti data tersebut, tapi beri kesimpulan yang masuk akal kenapa hal tersebut bisa terjadi, karena suatu penelitian kadang berbeda hasilnya dengan teori karena berbagai faktor, misalnya perbedaan budaya, dll. Para mahasiswa yang mengganti datanya adalah mahasiswa yang picik, yang tidak menghargai ilmu pengetahuan.

Di Indonesia sendiri, untuk pembuatan karya ilmiah seperti tugas akhir / skripsi, tesis dan desertasi diharuskan penelitian tersebut berguna / bermanfaat untuk masyarakat, sedangkan di luar negeri, hanya ingin membuktikan letak organ seekor kodok dan membedahnya tanpa ada manfaatnya bagi masyarakat sudah cukup, hanya pembuktian untuk keingintahuan saja. Lalu manakah yang anda pilih? Perlukah mengikuti luar negeri? Atau di Indonesia sudah cukup bagus? Anda sendiri yang dapat menilainya... :)

Salam... :)

**** [Sep 19, 2007] by Nuzulul
Justru di situlah masalahnya. Saya yakin, Freud, Adler, Maslow, dkk. saat menemukan teori-teori psikologi yang menjadi patern bagi pengembangan ilmu psikologi kontemporer tidaklah berpijakan pada teorema statistika moderen yang seperti dijabarkan oleh Anda. Sehingga justru dengan adanya teorema statistika tersebut, psikologi kontemporer malah mengalami stagnasi teori. Sebab yang terjadi akhirnya, hanyalah sekedar pembuktian-pembuktian belaka, yang nota bene dapat disiasati di atas kertas tanpa menafikan apa perhitungan-perhitungan statistik yang ada. Mempelajari manusia, tidak hanya berpatokan pada unsur kuantitatif namun sebaliknya, patokan kualitatif juga perlu diperhatikan sebagai proses penyeimbangan. Begitu bukan?

 
Copyright  2006 Yamin Setiawan